Wayang kulit, seni pertunjukan bayangan dari kulit kerbau, memiliki sejarah yang panjang dan kompleks di Indonesia. Diyakini telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, digunakan sebagai sarana penyampaian ajaran agama dan cerita epik. Seiring waktu, wayang kulit juga memasukkan elemen-elemen lokal dan mitologi pribumi, menciptakan paduan seni yang unik
Setelah masuknya Islam, wayang kulit digunakan oleh para Wali Songo, seperti Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah yang efektif.
Dalam setiap pertunjukannya, wayang kulit menggambarkan perjuangan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Tokoh-tokoh seperti Pandawa dan Kurawa menjadi simbol dari kekuatan baik dan jahat yang selalu bertarung dalam kehidupan.
Rabu tanggal 04 Juni 2025 Tenajar Lor dalam tradisi adatnya menyambut musim Panem yang mayoritas penduduk Tenajar Lor adalah Petani.
Kegiatan ini rutin di adakan setiap tahun untuk mempertahankan tranding budaya desa. Antusiasme masyarakat juga ikut memeriahkan acara tersebut baik dari kalangan muda hingga masuk usia.